Diferensiasi Qasir di Tengah Persaingan Startup Point-of-Sale

Jan. 23, 2020, 4:30 p.m. | Share on Facebook Share on Twitter

Tumbuh dari latar belakang orang tua yang punya usaha toko kelontong membuat sosok Michael Liem sangat mengerti seluk beluk usaha mikro. Ia mengaku akrab dengan karakter pelaku usaha mikro yang kesulitan mendapatkan akses ke layanan keuangan, karena kebiasaan menyimpan uang dan pencatatan transaksi secara tradisional.

Dulu sampai ada istilah bank paling besar itu Bank Khong Guan, karena setiap pemilik warung pasti menyimpan uangnya dalam kaleng biskuit, bukan ke bank. Catat penjualan juga masih tulis tangan di kertas rokok atau kardus, ungkapnya.

Awal 2000-an, ia menyaksikan bagaimana para pemilik toko kelontong susah payah bersaing dengan warung modern dengan konsep supermarket dan modal besar kian menjamur. Keterbatasan modal dan akses layanan keuangan akibat tidak adanya catatan transaksi, tak jarang membuat para pelaku usaha mikro terpaksa gulung tikar.

Perjalanan hidup kemudian mengantarkan Michael jadi CEO Qasir sejak 2018, setelah malang melintang di dunia digital dan pengembangan produk e-commerce seperti Orami dan Tokopedia. Qasir adalah startup aplikasi kasir (point of sale/POS) yang membantu pedagang mencatat penjualan, mengelola produk, mengawasi stok, hingga memantau laporan transaksi.

Para co-founder Qasir, Rachmat Anggara dan Moh. Novan Adrian, meminang Michael Liem sebagai CEO setelah mengenalnya dengan cukup baik ketika ia masih bekerja pada venture building company.

Mimpi kami adalah kami ingin usaha mikro ini naik kelas, ujar Michael. Usaha mikro bukan hanya warung, tetapi juga nelayan, pengusaha salon, dan masih banyak lainnya.

Cari pendapatan bukan dari biaya langganan

Berbeda dengan sejumlah penyedia layanan serupa lainnya, Qasir tidak memungut biaya berlangganan dari para pengguna. Sebagai gantinya, perusahaan mencari sumber pendapatan lain, seperti:

  • Belanja grosir. Qasir mendapatkan komisi dari setiap pembelanjaan grosir melalui aplikasinya.
  • Pembayaran digital. Qasir bekerja sama dengan berbagai penyedia dompet digital seperti GoPay, OVO, hingga DANA. Dari kerja sama itu, perusahaan mendapatkan revenue sharing dari merchant discount rate (harga khusus untuk penjual).
  • Penyaluran modal kerja. Sejak kuartal keempat 2019, Qasir mengklaim lebih dari seratus warung telah memanfaatkan fasilitas pembiayaan ini, dengan pinjaman yang disalurkan dalam bentuk barang dagang.
  • Menyediakan fitur-fitur premium dalam aplikasi yang bisa dibeli pengguna sesuai dengan kebutuhan usahanya.

Michael menambahkan, pertumbuhan bisnis Qasir selama dua tahun terahir cukup menggembirakan. Hingga tahun lalu, penggunanya telah mencapai 200.000 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di seluruh Indonesia. Kami ingin mengejar pertumbuhan 15-20% setiap bulan selama dua tahun mendatang.

Guna mengejar pertumbuhan tersebut, Qasir berencana untuk menghimpun pendanaan dari investor pada tahun ini. Pendanaan terakhir yang mereka terima dua tahun lalu masuk dalam kategori Seri A, dengan nilai yang tidak dipublikasikan dari sejumlah investor dan perusahaan modal ventura lokal.

Qasir | Photo

Fokus pada usaha mikro

Para pelaku usaha mikro merupakan salah satu fokus Qasir, mengingat mereka merupakan komponen terbesar dari pelaku UMKM di Indonesia. Menurutnya, aplikasi POS yang ada saat ini kebanyakan menyediakan solusi untuk pelaku usaha kecil dan menengah.

Padahal, potensi pasar dari usaha mikro juga tak kalah besar. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, terdapat 62,9 juta pelaku UMKM pada 2017. Dari jumlah tersebut, 98 persen atau sekitar 62,1 juta di antaranya merupakan pelaku usaha mikro.

Oleh karena itu, perusahaan pun merilis aplikasi kasir khusus pelaku usaha mikro yang bernama Miqro pada akhir tahun lalu. Aplikasi ini dirancang lebih sederhana dan mudah dipahami oleh pelaku usaha mikro.

Moh. Novan Adrian selaku Co-Founder dan Chief Technology Officer Qasir menyatakan, perusahaan membuat aplikasi menyesuaikan dengan segmen yang dibidik. Miqro fokus untuk mencatat pembelian yang dilakukan oleh para pengusaha.

Bentuknya seperti kalkulator, jadi sesederhana mereka mencatat pembelian yang dilakukan setiap minggunya, Kata Novan. Nanti kita gunakan teknologi reverse engineering untuk membuat catatan barang penjualan, karena barang yang mereka beli itulah yang mereka jual. Data transaksi inilah yang akan digunakan sebagai dasar bila mereka ingin meminjam modal kerja.

Dia menerangkan, Miqro cocok digunakan oleh pengusaha mikro yangbelum memiliki karyawan, sedangkan aplikasi Qasir lebih ditujukan kepada pelakuusaha kecil dan menengah yang telah memiliki karyawan dan skala bisnis lebihbesar.

Mengembangkan inovasi yang sesuai segmen ini menjadi strategi Qasir melakukan diferensiasi di tengah persaingan antara sesama startup sejenis. Saat ini, terdapat sejumlah pemain lainnya yang telah lebih dahulu berkecimpung di industri ini dan sama-sama mengincar UMKM, di antaranya Moka, Pawoon, dan Majoo.

Qasir: Sistem Kasir Online
Review Star Android YellowReview Star Android YellowReview Star Android YellowReview Star Android YellowReview Star Android Yellow
N/A 1,000 - 5,000
Gratis
Gratis

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

Comments


Subscribe

Did you want to subscribe daily post?


 
KONTAK

Jl. Kyai Haji Abdullah Syafii No. 12
RT 012/009 Bukit Duri, Tebet Jakarta Selatan
Telepon : 021-2983630
Twitter : @muhamadreggi
Berita Terkait
Kepada Yth Rekan-rekan di tempat Sekali lagi kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya...