[Opini] Menerawang Potensi Merger Tokopedia dengan Gojek

Jan. 8, 2021, 10:41 a.m. | Share on Facebook Share on Twitter

Kabar upaya merger antara dua perusahaan ride-hailing terbesar di Asia Tenggara, yaitu Grab dan Gojek, santer terdengar selama 2020 lalu. Dua perusahaan tersebut disebut-sebut tengah menjajaki peluang untuk menyatukan usaha, dengan Grab yang disebut menginginkan kendali tinggi dalam entitas gabungannya nanti.

Tahun 2020 berakhir sebelum ada langkah konkret dari Grab dan Gojek. Kini, di awal 2021, malah mencuat kabar baru bahwa Tokopedia dan Gojek sudah sepakat melakukan due diligence (uji tuntas) untuk menjajaki kemungkinan penyatuan usaha.

Bagaimana logikanya? Mengapa Tokopedia dan Gojek tertarik untuk merger, meski keduanya memiliki irisan relatif kecil dalam usaha masing-masing?

Sekilas merger Grab dan Gojek tampak lebih masuk akal. Walau tidak diakui secara gamblang oleh Grab ataupun Gojek, keduanya bersaing ketat hampir di seluruh lini usaha. Mereka berdua sama-sama memiliki penawaran yang kurang lebih bersifat substitutif.

Persaingan sengit untuk memenangkan pasar ini menguras modal masing-masing. Keduanya gencar menyubsidi dan memberi promosi pada sederet layanan andalannya, demi menambah jumlah pengguna aktif serta meningkatkan loyalitas basis konsumen masing-masing.

Bila langkah merger bisa terealisasi, kompetisi berbiaya tinggi bisa dihindari. Perusahaan pun bisa fokus memperbaiki margin usahanya, menuju model bisnis yang profitabel dan sehat.

Namun langkah merger kedua perusahaan itu menghadapi tantangan yang berat di depan mata. Sebagai penyedia layanan ride-hailing dan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara, langkah penggabungan usaha itu bakal mendapat perhatian besar dari badan pengawas persaingan usaha di banyak negara, tak terkecuali Indonesia. Entitas bisnis gabungan Grab dan Gojek berpotensi menciptakan monopoli yang sulit disaingi oleh pelaku usaha lain di industri.

Model bisnis yang komplementer

Beda halnya bila Tokopedia dan Gojek menggabungkan usaha. Natur bisnis Gojek, khususnya di bidang ride-hailing dan pesan-antar makanan, membuat penggunanya cukup sering bertransaksi di platform milik PT Karya Anak Bangsa itu dengan nominal relatif kecil di tiap transaksinya.

Volume transaksi di marketplace online Tokopedia cenderung tidak setinggi di platform Gojek. Namun, nominal tiap transaksi pembelian produk/layanan yang terjadi di Tokopedia cenderung lebih besar.

Model bisnis Tokopedia dan Gojek lebih bersifat komplementer, serta tak menimbulkan kekhawatiran setinggi konsolidasi Grab dan Gojek. Terlebih, kini keduanya juga memiliki beberapa investor yang sama, antara lain Google, Sequoia Capital India, hingga Temasek dari Singapura.

Dukungan investor besar

Salah satu investor terbesar Tokopedia, yaitu Softbank, juga sedang gencar meraup hasil investasi dari berbagai portofolionya. Perusahaan telekomunikasi asal Jepang itu tengah berusaha mengembalikan uang dan kepercayaan dari para investor yang telah menanamkan modal di inisiatif pendanaan startup terbesar dunia, Softbank Vision Fund.

Softbank juga merupakan salah satu investor terbesar di Grab. Ini kemungkinan juga jadi alasan mengapa setelah pembahasan merger Grab dan Gojek berjalan alot, Tokopedia muncul sebagai alternatifnya.

Upaya menyaingi Sea Group

Penggabungan upaya Tokopedia dan Gojek juga disebut-sebut sebagai upaya menyaingi bisnis raksasa Sea Group, induk perusahaan Shopee dan Garena. Apalagi, Tokopedia dan Gojek sama-sama tengah menjajaki peluang untuk tercatat di bursa efek Amerika Serikat.

Sebagai perusahaan internet yang telah terdaftar di bursa efek New York, Sea Group bisa dibilang memonopoli aliran dana dari para investor yang tertarik untuk menanamkan modal di Asia Tenggara. Harga sahamnya pun meningkat lima kali lipat selama 2020 lalu.

Sea Group Stock Price 2020 | Chart
Sumber: NYSE via Yahoo Finance

Pada 2020, Shopee tercatat sebagai marketplace online nomor satu di sejumlah negara, termasuk menggeser posisi Tokopedia di Indonesia. Sea Group juga mulai menggarap pasar pesan-antar makanan di Vietnam. Bukan mustahil Sea Group bakal melanjutkan ekspansi bisnisnya di negara-negara Asia Tenggara lain.

Dengan menggabungkan usaha, Tokopedia dan Gojek berpeluang memberi alternatif kepada kalangan investor di Amerika Serikat untuk menanamkan modal di Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Apalagi entitas gabungan tersebut diperkirakan bakal bernilai sedikitnya US$18 miliar (Rp255 triliun), lebih tinggi dibanding saat Sea Group go public di AS pada 2017 dulu dengan valuasi di angka US$3,75 miliar (Rp53 triliun). Nilai kapitalisasi pasarnya saat ini sudah membengkak hingga mencapai US$103 miliar (Rp1,45 kuadriliun).


Semua ini bukan berarti proses merger antara Tokopedia dan Gojek bakal mudah. Tokopedia memiliki afiliasi erat dengan OVO, yang sebagian sahamnya dimiliki Grab. Bila bergabung dengan Gojek yang memiliki GoPay, skema dompet digital pilihan yang jadi rekanan perlu ditinjau ulang.

Selain itu, berbeda dari Sea Group yang punya Garena sebagai mesin pencetak uang, tidak diketahui dengan jelas apakah Tokopedia ataupun Gojek punya kapabilitas serupa. Bersaing dengan Sea Group bakal jadi lebih sulit bila entitas gabungan keduanya belum punya lini bisnis yang mampu menyuplai bahan bakar dalam kompetisi merebut pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Penggabungan usaha itu juga akan jadi proses tawar-menawar pembagian kekuasaan dari kedua petinggi perusahaan teknologi dalam negeri itu. Ego dan kepentingan dari masing-masing pribadi akan diuji. Bila tak menemukan titik tengah, bukan tak mungkin upaya penjajakan yang tengah dilakukan bisa berakhir sia-sia.

(Diedit oleh Ancha Hardiansya; Sumber gambar: Prambors FM)

Comments


Subscribe

Did you want to subscribe daily post?


 
KONTAK

Jl. Kyai Haji Abdullah Syafii No. 12
RT 012/009 Bukit Duri, Tebet Jakarta Selatan
Telepon : 021-2983630
Twitter : @muhamadreggi
Berita Terkait
Kepada Yth Rekan-rekan di tempat Sekali lagi kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya...